Sabtu, 03 Desember 2016

PRAKTIKUM PEMBUATAN KLEPON PISANG ISI BUAH MAKUL NILAI TAMBAH

LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBUATAN KLEPON KETAN DAN KLEPON PISANG ISI BUAH

Mata Kuliah                   : Nilai Tambah Produk Agribisnis
Dosen Pengampu           : Ir. B. Budi Setiawati, MP.
Description: Description: D:\KULIAH STPP SEMESTER 1\LOGO STPP.png
 









DISUSUN OLEH :
KELAS IIIA
NO
NAMA
NIREM
1.
Lia Agustina
05.1.4.15.0512
2.
M. Hasbi Assidiqi
05.1.4.15.0513
3.
M. Syaifudinor
05.14.15. 0514
4.
Meida Niken Sari
05.1.4.15.0515
5.
Nor Faizatulina
05..1.4.15.0516
6.
Novitasari Indriyatuti
05.1.4.15.0517
7.
Nur Fatimah
05.1.4.15.0518
7.
Risky Kurnianto
05.1.4.15.0519
8.
Rennyta Septiana Hapsari
05.1.4.15.0520

KEMENTRIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN DAN
PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN  PENYULUHAN PERTANIAN
YOGYAKARTA
2016


KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, nikmat, hidayah dan kasih sayang-Nya serta shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW beserta keluarga, sahabat dan para pengikutnya. Sehingga penyusunan  Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis yang berjudul “PEMBUATAN KLEPON KETAN DAN KLEPON PISANG ISI BUAH  dapat diselesaikan dengan maksimal dan tepat pada waktunya.
Dalam Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis kami menyampaikan tentang inovasi olahan pangan untuk meningkatkan nilai tambah dari produk hasil pertanian. Adapun maksud kami mengolah produk hasil pertanian menjadi olahan tradisional dengan memodif rasa yang modern ini bertujuan untuk mengembangkan produk-produk tradisional dengan dimodifikasi modern guna untuk meningkatkan nilai jual dan memberikan daya tarik pada konsumen. Tak lupa saya ucapkan terimakasih kepada Ibu Ir. B. Budi Setiawati, MP. selaku dosen Nilai Tambah Produk Agribisnis dan Tim Dosen Pengampu Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis serta Teknisi Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian yang telah membantu dan memberikan ilmunya dan menyediakan peralatan dan bahan baku serta memberikan pengarahan kegiatan praktikum pada kesempatan ini.
Akhirnya kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis ini masih banyak kekurangan, maka dari itu dengan rendah hati kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis. Selain itu penulis mengharapkan semoga Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis ini dapat bermanfaat bagi pembaca.


                                                                                    Yogyakarta, 04 Oktober 2016
                                                                                                     Penulis


DAFTAR ISI
SAMPUL........................................................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................
A.  Latar Belakang...........................................................................................................
B.  Tujuan........................................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A.  Klepon .......................................................................................................................
B.  Pisang.........................................................................................................................
C.  Selai ...........................................................................................................................
D.  Apel............................................................................................................................
E.   Nangka.......................................................................................................................
F.   Mangga......................................................................................................................
G.  Nanas.........................................................................................................................
BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A.  Waktu dan Tempat.....................................................................................................
B.  Alat dan Bahan..........................................................................................................
C.  Prosedur Kerja...........................................................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil Pengamatan Praktikum Pembuatan Klepon.............................................................
B.  Nilai Tambah Produk Klepon Pisang Isi Buah..........................................................
BAB V PENUTUP........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN...................................................................................................


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Buah pisang merupakan salah satu jenis komoditi holtikultura dalam kelompok buah-buahan yang memiliki nilai sosial dan ekonomi cukup tinggi bagi masyarakat Indonesia karena antara lain pisang sebagai sumber pro vitamin A yang baik, pisang sebagai sumber kalori utama disamping alpukat dan durian, pisang cukup dikenal oleh masyarakat luas, budidaya pisang dapat dilakukan dimana saja dan cepat tumbuhnya. Selain itu, komoditas pisang juga mempunyai peluang besar untuk dimanfaatkan dalam aneka industri. Pisang mengandung polifenol, oleh karena itu mudah mengalami reaksi browning apabila kontak dengan udara. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mencegah pencoklatan adalah dengan melakukan perendaman buah dengan asam-asam organik seperti asam sitrat dan garam (NaCl), karena asam sitrat berfungsi sebagai anti oksidan,sedangkan NaCl mampu menghilangkan lender, dan anti oksidan sehingga menyebabkan tepung berwarna putih.
Pisang kepok (Musa paradisiacal formatypica) merupakan produk yang cukup perspektif dalam pengembangan sumber pangan lokal karena pisang dapat tumbuh di sembarang tempat sehingga produksi buahnya selalu tersedia, namun cepat rusak setelah lepas panen karena melalui proses klimaterik yaitu proses kematangan, untuk mengatasi untuk mengatasi kerusakan tersebut maka dapat diolah menjadi berbagai olahan makanan salah satunya klepon.
Klepon merupakan salah satu jenis produk pangan dan jajanan tradisional semi basah yang telah dikenal dan beredar di lingkungan masyarakat, termasuk masyarakat Yogyakarta. Klepon termasuk dalam golongan jajanan pasar yang relatif murah dan memiliki cita rasa yang khas sehingga cocok disajikan untuk sarapan, camilan di sore hari maupun untuk makanan ringan pada acara-acara, misalnya arisan. Klepon memiliki tekstur yang agak kenyal dengan rasa yang manis. Klepon terbuat dari tepung ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil berwarna putih, merah muda, atau hijau (sesuai selera), berisi gula merah, dimasak dengan cara direbus dalam air mendidih dan disajikan dengan parutan kelapa dan garam halus. Klepon biasanya dijajakan bersama-sama dengan jajanan tradisional lainnya. Umumnya, klepon yang jual di pasar-pasar tradisional dan pedagang kaki lima di pinggir jalan adalah klepon yang berwarna hijau.
Melihat kenyataan yang demikian maka untuk meningkatkan nilai jual pisang dan menangani hasil panen pisang yang mudah rusak maka dilakukan pengolahan buah pisang menjadi aneka olahan yang banyak digemari masyarakat salah satunya adalah klepon pisang isi buah. Klepon pisang yang belum banyak dijual dipasaran terlebih dengan isi menggunakan selai buah yang selama ini belum ada diharapkan mampu memberikan daya tarik pada konsumen.

B.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui penanganan lebih lanjut pada buah-buahan yang bertujuan meningkatan nilai jual pada buah tersebut khususnya buah pisang.
2.      Untuk mengetahui proses pembuatan klepon pisang isi buah.
3.      Untuk mengetahui daya simpan selai buah-buahan.
4.      Untuk mengetahui daya simpan klepon pisang isi buah.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Klepon
Kue Klepon merupakan kue tradisional yang berbahan dasar dari tepung beras ketan. Dari jajaran makanan daerah lainnya, dia termasuk jajanan pasar khas nusantara yang memiliki bentuk unik mirip gunduk atau kelereng dan rasa manis yang lembut. Rasa manis klepon berasal dari potongan kecil gula jawa yang di sisipkan ke dalam bola-bola klepon dan dengan sendirinya akan meleleh saat di kukus atau adang. Untuk pengolahannya, dapat diolah dengan direbus atau bisa juga dengan cara dikukus lalu digulungkan diatas parutan kelapa muda yang telah disiapkan.
Asal-muasal Kue Klepon ini dikabarkan berasal dari tanah Jawa yang keberadaannya saat ini sudah dikenal keseluruh pelosok nusantara maupun diluar negeri juga. Untuk didaerah tanah Melayu seperti Sumatra dan juga Malaysia, Kue Klepon ini diberikan atau sudah dikenal dengan nama Onde-onde. Kebiasaan orang Jawa sebelum berangkat kerja dan ke sawah-ladang selalu mengawali pagi dengan sarapan kue jajanan pasar, termasuk kue Klepon. Sebab makanan Khas Jawa ini memang cocok untuk di hidangkan atau disajikan untuk mengisi perut sebelum beraktivitas pagi. Kombinasi sarapan Gethuk dan juga Cenil atau Cetil juga menjadi pilihan saat sore hari.
Ciri Khas Kue Klepon adalah bentuknya yang bulat serta memiliki warna Putih ataupun Hijau. Akan tetapi, warna tersebut tidaklah warna seharusnya karena Anda dapat mengganti warna Putih dan Hijau tersebut dengan warna kesukaan ataupun warna yang menjadi selera masing-masing.

B.  Pisang
Pisang (Banana) adalah pohon jenis Terna (pohon dengan batang yang lunak dan tidak berkayu) dari suku Musaceae dengan batang yang kuat, dan daun-daun yang besar memanjang dan berwarna hijau tua. Buah pohon ini nampak dalam bentuk sisir-sisir, yang tiap sisirnya berisi (10 20) pisang, dan dalam buahnya tidak terdapat biji. Pisang  merupakan buah dengan sumber gizi yang hampir sempurna karena pisang mengandung nutrisi enam yaitu: air, gula, protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Pisang mengandung (68%) air, (25%) gula, (2%) protein, (1%), lemak dan minyak, (1%) serat Selulosa. Sebagaimana juga ia mengandung pati dan asam tanin, vitamin A (300 IU per seratus gram), vitamin B dengan berbagai jenisnya; B1, B2, B 6, dan 12 (100 mg per seratus gram), persentase yang cukup dari vitamin D, dan sedikit Vitamin Z. Dan pisang juga mengandung Kalsium (100 mg per seratus gram), Fosfor, Besi, Sodium, Kalium (potassium), Magnesium, dan Seng.
Pisang dianggap sebagai bahan makanan super lezat yang siap membuat lidah bergoyang. Rasanya yang khas, lembut, manis, dan creamy, tidak pernah bisa terlupakan. Pisang adalah buah yang kaya nutrisi. Salah satu nutrisi yang paling lazim dibicarakan adalah potasium (kalium), yang baik untuk relaksasi, menurunkan tekanan dan melancarkan aliran (sirkulasi) darah. Manfaat lain buah pisang antara lain adalah meningkatkan kekebalan tubuh, obat hipertensi (tekanan darah tinggi), mencegah penyakit jantung, kesehatan janin Ibu hamil, mengatasi anemia (kurang darah), mengatasi gangguan pencernaan, menurunkan berat badan.

C.  Selai
Selai adalah bahan dengan konsistensi gel atau semi gel yang dibuat dari bubur buah. Selai digunakan sebagai bahan pengisi dalam pembuatan roti dan kue. Konsistensi gel atau semi gel pada selai diperoleh dari interaksi senyawa pektin yang berasal dari buah atau pektin yang ditambahkan dari luar, gula sukrosa dan asam. Interaksi ini terjadi pada suhu tinggi dan bersifat menetap setelah suhu diturunkan (Hasbulloh, 2001).
Penambahan sukrosa dalam pembuatan produk makanan seperti selai berfungsi untuk memberikan rasa manis, dan dapat pula sebagai pengawet, yaitu dalam konsentrasi tinggi menghambat pertumbuhan mikroorganisme dengan cara rnenurunkan aktivitas air dari bahan pangan (Margono, 2000).
Selai biasanya di buat dari berbagai macam jenis buah – buahan yang terdapat banyak dipasaran , misalnya saja strawberry,  blueberry, nanas, pisang. Selai adalah produk makanan yang kental atau setengah padat yang dasarnya dibuat dari campuran 45 bagian berat buah. Biasanya selai digunakan sebagai penambah cita rasa dalam menikmati berbagai macam kue – kuehan maupun saat menikmati roti, selain untuk menambah rasa selai juga dapat memperindah tampilan kue – kue atau roti itu tersendiri karena selai memiliki warna alami yang sangat menarik misalnya saja selai nanas memiliki warna kuning yang sangan menarik perhatian.
Penambahan pektin pada pembuatan selai dapat dilakukan untuk mengatasi masalah gagalnya pembentukan gel pada pembuatan selai dari buah-buahan yang kandungan pektinnya rendah. Gel pektin dapat terbentuk pada berbagai suhu walaupun kecepatan pembentukan gel tergantung pada berbagai faktor yaitu gula, konsentrasi pektin, jenis pektin, pH dan suhu. Pembentukan gel dapat menjadi lebih cepat dengan semakin rendahnya suhu serta meningkatnya konsentrasi gula. (Ropiani, 2006).
Description: C:\Users\eight\Documents\index.png
Gambar 1. Diagram Pembuatan Selai

D.  Apel
Apel adalah jenis buah-buahan, atau buah yang dihasilkan dari pohon buah apel. Buah apel biasanya berwarna merah kulitnya jika masak dan (siap dimakan), namun bisa juga kulitnya berwarna hijau atau kuning. Kulit buahnya agak lembek, daging buahnya keras. Buah ini memiliki beberapa biji di dalamnya.
Selain senyawa pektin, dalam satu buah apel ukuran 100 gram juga terkandung banyak zat gizi. Diantaranya Kalori (58 kalori), Hidrat arang (14,9 gram), Lemak (0,4 gram), Protein (0,3 gram), Kalsium (6 mg), Fosfor (10 mg), Zat Besi (0,3 mg), Vitamin A (90 SI), Vitamin B1 (0,04 mg), Vitamin C (5 mg) dan Air (84 %).
Buah apel mempunyai manfaat untuk pengobatan diantaranya, mengobati susah buang air besar, mengobati diare hingga mengatasi diabetes. Sementara itu, khasiat buah apel untuk kesehatan antara lain melancarkan sistem pencernaan, menangkal radikal bebas, mencegah kanker, menyehatkan gigi, hingga mencegah penyakit alzheimer.

E.  Nangka
Nangka ( Artocarpus heterophyllus Lamk ) merupakan tanaman buah yang beraasal dari India dan menyebar luas keberbagai daerah tropis, terutamanya Indonesia. Tanaman ini memiliki nama berbeda – beda dan bervariasi tergantung wilayah maupun daerahnya. Tanaman nangka ini merupakan tanaman yang tergolong kedalam jenis buah tahunan, dan masih berfamili dengan Malvales dan juga termasuk kedalam ordo Urticales. Tanaman nangka memiliki buah berbentuk bulat memanjang berwarna hijau dan kekuningan jika sudah mau matang. Buah ini tergolong kedalam buah yang majemuk, yang memiliki daging didalamnya yang banyak. Buah ini memiliki permukaan kasar dan berduri lunak, serta buah ini terdapat di batang dan percabangan.
Buah Nangka mengandung energi sebesar 106 kilokalori, protein 1,2 gram, karbohidrat 27,6 gram, lemak 0,3 gram, kalsium 20 miligram, fosfor 19 miligram, dan zat besi 1 miligram.  Selain itu di dalam Buah Nangka Masak Di Pohon juga terkandung vitamin A sebanyak 330 IU, vitamin B1 0,07 miligram dan vitamin C 7 miligram.  Hasil tersebut didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Buah Nangka Masak Di Pohon, dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 28 %.
Manfaat buah angka antara lain adalah mencegah kanker, mencegah anemia, membantu memperkuat tulang, menjaga kesehatan mata dan kulit,  menjaga kesehatan tiroid, membantu menurunkan tekanan darah , dapat meningkatkan energi.

F.   Mangga
Buah Mangga atau biasa disebut mempelam dan dalam bahasa ilmiahnya adalah Mangifera indica merupakan nama buah sekaligus nama dari pohonnya. Buah ini termasuk ke dalam marga Mangifera, yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Buah ini diperkirakan berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma dan telah menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun yang silam. Pengambilan nama buah ini berasal dari Malayalam maanga dan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga. Nama ilmiah buah mangga mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari India”. Pohon mangga termasuk dalam kelompok arboreus, yaitu tumbuhan berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Pohonnya dapat mencapai tinggi 10-40 m.
Buah mangga memiliki banyak penggemar. Rasa daging buah yang umumnya manis dengan tekstur lembut serta menyegarkan ketika dimakan, menjadikan buah ini selalu dicari banyak orang apalagi ketika sedang musimnya. Selain memiliki sifat rasa yang manis dan menyegarkan, ternyata buah mangga mengandung banyak nutrisi yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Buah ini juga kaya vitamin E dan diyakini mengandung afrodisiak, yakni bahan yang bisa berfungsi meningkatkan libido atau gairah bercinta.
Tabel dibawah menunjukkan nilai kandungan setiap unsur gizi dalam buah mangga baik mentah maupun matang.
Kandungan zat
Nilai rata-rata buah manga
Mentah
Matang
Air (%)
90.00
86.00
Protein (%)
0.70
0.60
Gula total(%)
8.80
11.80
Lemak (%)
0.10
0.10
Serat
-
1.10
Mineral
0.40
0.30
   Kapur (%)
0.03
0.01
   Fosfor (%)
0.02
0.02
   Besi ( mg/gram)
4.50
0.30
Vitamin A (mg/100g)
150 U.I
4800 U.I
Vitamin B1 (mg/100 g)
-
0.04
Vitamin B2 ( mg/100g)
0.03
0.05
Vitamin C (mg/100 g)
3.00
13.00
Asam nicotinat ( mg/100 g)
-
0.30
Nilai Kalori per 100 g
39
50-60
Sumber: Laroussilhe, LE MANGUER, 1960



G. Nanas
Nanas merupakan salah satu tanaman buah yang banyak dibudidayakan di daerah tropis dan subtropis. Tanaman ini mempunyai banyak manfaat terutama pada buahnya. Karena banyak mengandung vitamin C. Bagian buah nanas yang dapat dimakan mengandung air 85%, protein 0,4%, gula 14%, lemak 0,1%, dan serat 0,5%. Buah nanas mengandung vitamin A, C dan B1. Kandungan vitamin C dalam nenas adalah 24 mg dalam 100 gram buah nanas segar. Santoso (1998), menyatakan bahwa buah nanas mengandung nilai gizi yang tinggi.
Tabel 1. Kandungan gizi buah nanas segar (100 gram bahan)

No
Kandungan Gizi
Satuan Kalori
Jumlah
1.
Kalori
gr
52,00
2.
Protein
gr
0,40
3.
Lemak
gr
0,20
4.
Karbohidrat
gr
16,00
5.
Fosfor
mg
11,00
6.
Zat besi
mg
0,30
Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI, 1981

Nenas mudah sekali mengalami perubahan fisiologis, kimia, dan fisik bila tidak ditangani secara tepat. Akibatnya, mutu akan turun drastis. Nenas menjadi tidak segar lagi dalam waktu yang sangat singkat sehingga tidak termnfaatkan. Pengolahan nenas juga dapat mengamankan hasil panen yang berlimpah. Dengan mengolahnya menjadi selai maka daya simpan menjadi lebih lama dan jangkauan pemasarannya lebih luas. Hal ini memungkinkan pada saat bukan musimnya kita masih dapat menikmati cita rasa buah nenas sesuai dengan cita rasa buah segarnya.
Selai dibuat dengan cara memasak hancuran gula, dicampur dengan gula dengan atau tanpa ditambah air. Selai biasanya digunakan sebagai bahan olesan roti atau sebagai tambahan untuk pembuatan kue. Selai mudah dibuat karena bahan-bahannya mudah diperoleh. Dalam membuat selai, dilakukan dengan memanfaatkan buah yang matang, serta dapat dicampurkan dengan yang kurang matang. Pencampuran itu dapat menghasilkan selai yang lebih baik.

BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM

A.  Waktu
Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah dilaksanakan pada hari Selasa, 04 Oktober 2016 pada pukul 13.00-17.10 WIB. Pengamatan hasil praktikum dilakukan Mulai Selasa, 04 Oktober 2016 – 17 Oktober 2016.
B.  Tempat
Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah dilaksanakan bertempat di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian (PHP) Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta.
C.  Alat dan Bahan
ALAT
BAHAN
1.        Pisau
2.        Panci
3.        Baskom
4.        Alat Pemarut
5.        Pengaduk
6.        Sendok
7.        Telenan
8.        Saringan
9.        Spatula
10.    Nampan
11.    Kompor
12.    Wajan
13.    Peniris
1.      Pisang Kapok Kuning 1 sisir
2.      Tepung Ketan (Rosse Brand) 1 kg
3.      Buah Nanas 1 buah
4.      Buah Nangka ¼ kg
5.      Buah Naga ½ kg
6.      Kelapa 1 butir
7.      Gula Pasir 1 kg
8.      Pasta Coklat 1 botol
9.      Greentea 1 botol
10.  Gula Jawa ½ kg
11.  Buah Mangga ½ kg
12.  Buah  Apel ½ kg
13.  Garam secukupnya
14.  Daun Pandan/Daun Suji

D.  Prosedur Kerja
1.    Pembuatan Isi Klepon
a.    Siapkan alat dan bahan.
b.    Kupas kulit buah nanas, nangka, naga, pisang, mangga dan apel.
c.    Cuci bersih buah yang telah dikupas.
d.   Parut untuk buah nanas dan apel, sedangkan untuk buah mangga dan nangka dipotong kecil-kecil.
e.    Hasil parutan dan potongan masing-masing ditambahkan gula pasir dan disangrai.
f.     Tunggu beberapa menit sampai buah sedikit layu agar dihasilkan tekstur dan rasa buah yang alami.
g.    Dinginkan dan kemudian dibentuk bulatan-bulatan kecil.
2.    Pembuatan Kulit Klepon
a.    Siapkan alat dan bahan.
b.    Parut kelapa untuk membuat santan dan sisihkan hasil parutan kelapa untuk ditaburkan pada klepon yang telah jadi,.
c.    Blender sebagian pisang dan buah naga.
d.   Campurkan  tepung ketan, garam, santan dan ekstrak buah naga.
e.    Buatlah adonan sampai merata dan adonan benar-benar kalis.
f.     Setelah adonan kalis, adonan siap dibentuk bulatan-bulatan kecil dan kemudian dimasukkan isi yang telah disiapkan.
g.    Bulatan-bulatan kecil yang telah terisi kemudian dimasukkan kedalam air yang telah mendidih.
h.    Tunggu beberapa menit sampai bulatan-bulatan tersebut mengampung diatas permukaan.
i.      Angkat bulatan-bulatan tersebut menggunakan peniris dan tiriskan.
j.      Bulatan-bulatan yang telah didinginkan kemudian dibalurkan dengan parutan kelapa.
k.    Klepon pisang isi buah siap disajikan



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan Praktikum Pembuatan Klepon
1.    Pengamatan Hari Selasa, 4 Oktober 2016 (sebelum ada perlakuan penyimpanan)
No
Pengamatan
Klepon Pisang
Klepon Ketan
Selai Nanas
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Kenyal
Kenyal
Agak keras
Normal
Normal
Normal
2.
Rasa
Enak
Enak
Enak
Enak
Enak
Enak
3.
Warna
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
4.
Bau/Aroma
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
5.
Pertumbuhan jamur
-
-
-
-
-
-
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)    Klepon Pisang
Klepon pisang memiliki tekstur yang lebih kenyal, rasa enak, warna hijau menggunakan ektrak daun pandan dan warna ungu dari ekstrak buah naga, aroma normal yaitu segar dan pertumbuhan jamur belum ada karena masih dalam bentuk segar.
2)    Klepon Ketan
Klepon pisang memiliki tekstur yang kenyal, rasa enak, warna hijau menggunakan ektrak daun pandan dan warna ungu dari ekstrak buah naga, aroma normal yaitu segar dan pertumbuhan jamur belum ada karena masih dalam bentuk segar.
3)    Selai Nanas
Tekstur selai yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah nanas itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga   selai   nanas   yang   dihasilkan   mempunyai   tekstur   yang   agak keras. Penyebab tekstur selai nanas keras diakibatkan juga oleh lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan hasil selain menjadi   keras   dan   membentuk   kristal   gula.   Sedangkan   bila   terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan   dengan   kadar   pektin   atau   keasaman   yang   rendah   perlu ditambahkan pektin atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai nanas yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas buah tersebut/ buah nanas. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai nanas adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan lama pemasakan. Rasa dari selai  nanas itu sendiri adalah enak, manis dan agak asam.
4)    Selai Nangka
Tekstur selai yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah nangka itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga   selai   nangka   yang   dihasilkan   mempunyai   tekstur   yang   agak keras. Penyebab tekstur selai nanas keras diakibatkan juga oleh lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan hasil selain menjadi   keras   dan   membentuk   kristal   gula.   Sedangkan   bila   terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan   dengan   kadar   pektin   atau   keasaman   yang   rendah   perlu ditambahkan pektin atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai nangka yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas buah tersebut/ buah nangka. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai nangka adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan lama pemasakan. Rasa dari selai  nangka itu sendiri adalah enak, dan manis.
5)    Selai Mangga
Tekstur selai yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah mangga itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga   selai   nangka   yang   dihasilkan   mempunyai   tekstur   yang   agak keras. Penyebab tekstur selai mangga keras diakibatkan juga oleh lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan hasil selain menjadi   keras   dan   membentuk   kristal   gula.   Sedangkan   bila   terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan   dengan   kadar   pektin   atau   keasaman   yang   rendah   perlu ditambahkan pektin atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai nangka yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas buah tersebut/ buah mangga. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai nangka adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan lama pemasakan. Rasa dari selai  nangka itu sendiri adalah enak, manis dan agak asam.
6)      Selai Apel
Tekstur selai yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah apel itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga   selai   apel   yang   dihasilkan   mempunyai   tekstur   yang   agak keras. Penyebab tekstur selai apel agak keras diakibatkan juga oleh lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan hasil selain menjadi   keras   dan   membentuk   kristal   gula.   Sedangkan   bila   terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan   dengan   kadar   pektin   atau   keasaman   yang   rendah   perlu ditambahkan pektin atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai apel yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas buah tersebut/ buah apel. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai nangka adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan lama pemasakan. Rasa dari selai  apel itu sendiri adalah enak, dan manis.



2.    Pengamatan Hari Rabu, 05 Oktober 2016 pada pukul 10.30 (Hari Pertama Pengamatan)
a.    Suhu Kulkas
No
Pengamatan
Klepon Pisang
Klepon Ketan
Selai Nanas
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Membeku, keras, bagus
Membeku, keras, bagus
Membeku, keras, bagus
Membeku, keras, bagus
Membeku, keras, bagus
Membeku, keras, bagus
2.
Rasa
Enak
Enak
Enak
Enak
Enak
Enak
3.
Warna
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
4.
Bau/Aroma
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
5.
Pertumbuhan jamur
-
-
-
-
-
-
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)    Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)    Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3)    Selai Nangka
Hasil pengamatan pada Selai Nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari tekstur dari Selai Nangka tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)    Selai Nanas
Hasil pengamatan pada Selai Nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari tekstur dari Selai Nanas tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
5)    Selai Mangga
Hasil pengamatan pada Selai Mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari tekstur dari Selai Mangga tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)    Selai Apel
Hasil pengamatan pada selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari tekstur dari selai tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
b.    Suhu Ruang
No
Pengamatan
Klepon pisang
Klepon Ketan
Selai Nanas
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Agak Lembek
Lembek
Agak Keras
Agak Keras
Agak Keras
Agak Keras
2.
Rasa
Enak lebih normal
Enak, Agak berlendir
Enak, Agak berlendir
Enak, Agak berlendir
Enak, Agak berlendir
Enak, Agak berlendir
3.
Warna
Sama
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
4.
Bau/Aroma
Segar/Normal
Bau Busuk menyengat
Bau Busuk menyengat
Bau Busuk menyengat
Bau Busuk menyengat
Bau Busuk menyengat
5.
Pertumbuhan jamur
-
-
-
-
-
-
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)   Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah agak lembek karena disimpan pada suhu ruang sehingga ada pertukaran sirkulasi udara, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal yaitu segar. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)   Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari klepon ketan  tersebut adalah menjadi lembek karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3)   Selai Nanas
Hasil pengamatan pada selai nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai nanas  tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)   Selai Nangka
Hasil pengamatan pada selai nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai nangka  tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.


5)   Selai Mangga
Hasil pengamatan pada selai mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai mangga  tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)   Selai Apel
Hasil pengamatan pada selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai apel tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3.      Pengamatan Hari Kamis, 06 Oktober 2016 Pukul 10.30 (Hari Kedua Pengamatan)
a.     Suhu Kulkas
No
Pengamatan
Klepon pisang
Klepon Ketan
Selai Nanas
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Beku
Beku
Baik
Baik
Baik
Baik
2.
Rasa
Baik
Masam
Tidak terlalu manis /asam
Baik
Manis
Baik
Baik
3.
Warna
Belum Berubah
Baik
Baik
Baik
Baik
Browning
4.
Bau/Aroma
Harum Pandan
Masam
Tidak terlalu manis
Harum
Baik
Baik
5.
Pertumbuhan jamur
-
-
-
-
-
-
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)   Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal belum terjadi perubahan yaitu harum, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang umur simpan produk. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)   Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon ketantersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masam serta untuk warna masih baik dan aroma terjadi perubhan menjadi masam, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang umur simpan produk akan tetapi bahan baku yang digunakan akan menentukan umur penyimpanan. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3)   Selai Nanas
Hasil pengamatan pada Selai Nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai Nanas tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)   Selai Nangka
Hasil pengamatan pada Selai Nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai Nangka tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin berubah menjadi kurang manis  serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.


5)   Selai Mangga
Hasil pengamatan pada Selai Mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai mangga tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)   Selai Apel
Hasil pengamatan pada Selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai apel tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih normal serta untuk warna mengalami browning karena ada sirkulasi udara yang dapat mempengeruhi perubahan warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
b.      Suhu Ruangan
No
Pengamatan
Klepon pisang
Klepon Ketan
Selai Nangka
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Lembek
Sedikit Lembek
Keras
Keras
Keras  
Sedikit Lembek
s
Rasa
Masam
Masam
Sedikit manis
Tidak terlalu manis
Sedikit masam
Sedikit manis
3.
Warna
Pucat
Sedikit Pucat
Baik
Baik/browning
Baik
Browning
4.
Bau/Aroma
Kerut
Masam
Kuat
Masam
Masam
Kecut
5.
Pertumbuhan jamur
-
-
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)   Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah agak lembek karena disimpan pada suhu ruang sehingga ada pertukaran sirkulasi udara, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang sudah masam mendekati basi serta untuk warna sudah memudar dan mulai pucat dan aroma sudah mulai kecut karena sudah mulai basi. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)   Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari klepon ketan tersebut adalah agak lembek karena disimpan pada suhu ruang sehingga ada pertukaran sirkulasi udara, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak serta untuk warna pucat dan aroma sudah kecut agak masam sehingga produk mudah basi . Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3)   Selai Nanas
Hasil pengamatan pada selai nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai nanas  tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)   Selai Nangka
Hasil pengamatan pada selai nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai nangka  tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna masih normal namun sudah mulai terjadi browning dan aroma sudah berbau masam. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
5)   Selai Mangga
Hasil pengamatan pada selai mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai mangga  tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)   Selai Apel
Hasil pengamatan pada selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama sehari tekstur dari selai apel  tersebut adalah menjadi agak lembek, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna terjadi browning dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4.      Pengamtan Hari Senin, 11 Oktober 2016 (Hari Ketiga Pengamatan)
a.       Suhu Ruang
No
Pengamatan
Klepon pisang
Klepon Ketan
Selai Nanas
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Berlendir, Lembek
Berlendir, Lembek
Mengkristal karena gula
Berlendir, Lembek
Mengkristal karena gula
Berlendir, Lembek
2.
Rasa
Basi
Basi
Basi
Basi
Basi
Basi
3.
Warna
Masih bagus
Masih bagus
Masih bagus
Masih bagus
Masih bagus
Masih bagus
4.
Bau/Aroma
Asam
Asam
Asam
Busuk
Asam
Busuk
5.
Pertumbuhan jamur
Ada Pertumbuhan Jamur
Ada Pertumbuhan Jamur
Ada Pertumbuhan Jamur
Ada Pertumbuhan Jamur
Ada Pertumbuhan Jamur
Ada Pertumbuhan Jamur
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)   Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama tiga hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon pisang tersebut adalah lembek dan berlendir hal ini karena adanya mikroorganisme yang mempercepat pembusukkan,  rasa setelah disimpan dalam suhu ruang selama tiga hari sudah tidak enak dikonsumsi karena sudah basi serta untuk warna masih normal dengan sedikit perubahan serta aroma yaitu kecut karena sudah basi, hal ini dikarenakan pada suhu ruang sangat sensitif sehingga rangsangan pertumbuhan mikroorganisme lebih cepat. Sudah terjadi pertumbuhan jamur.
2)   Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama tiga hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon ketan tersebut adalah lembek dan berlendir hal ini karena adanya mikroorganisme yang mempercepat pembusukkan,  rasa setelah disimpan dalam suhu ruang selama tiga hari sudah tidak enak dikonsumsi karena sudah basi serta untuk warna masih normal dengan sedikit perubahan serta aroma yaitu kecut karena sudah basi, hal ini dikarenakan pada suhu ruang sangat sensitif sehingga rangsangan pertumbuhan mikroorganisme lebih cepat. Sudah terjadi pertumbuhan jamur.
3)   Selai Nanas
Hasil pengamatan pada suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai nanas mengkristal karena adanya gula sehingga selai ini dapat mengumpal,  rasa selai nanas sudah tidak enak karena sudah basi, warna dari selai selai nanas masih bagus belum terjadi perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada pertumbuhan jamur pada selai.
4)   Selai Nangka
Hasil pengamatan pada suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai nangka mengkristal karena adanya gula sehingga selai ini dapat mengumpal,  rasa selai nangka sudah tidak enak karena sudah basi, warna dari selai selai nangka masih bagus belum terjadi perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada pertumbuhan jamur pada selai.
5)   Selai Mangga
Hasil pengamatan pada suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai mangga mengkristal karena adanya gula sehingga selai ini dapat mengumpal,  rasa selai mangga sudah tidak enak karena sudah basi, warna dari selai selai mangga masih bagus belum terjadi perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada pertumbuhan jamur pada selai.
6)   Selai Apel
Hasil pengamatan pada suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai apel lembek dan berair,  rasa selai apel sudah tidak enak karena sudah basi, warna dari selai selai apel masih bagus belum terjadi perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada pertumbuhan jamur pada selai.
b.      Suhu Kulkas
No
Pengamatan
Klepon pisang
Klepon Ketan
Selai Nangka
Selai Nangka
Selai Mangga
Selai Apel
1.
Tekstur
Keras
Keras
Mengkristal
Mengkristal
Mengkristal
Mengkristal
2.
Rasa
Masih Bagus
Masih Bagus
Manis
Kurang Manis
Masih Asam
Kurang Manis
3.
Warna
Masih Bagus
Masih Bagus
Masih Bagus
Masih Bagus
Masih Bagus
Masih Bagus
4.
Bau/Aroma
Harum
Harum
Kurang Harum
Kurang Harum
Kurang Harum
Kurang Harum
5.
Pertumbuhan jamur
Mulai Ada Pertumbuhan Jamur
Mulai Ada Pertumbuhan Jamur
Belum ada Pertumbuhan Jamur
Belum ada Pertumbuhan Jamur
Belum ada Pertumbuhan Jamur
Belum ada Pertumbuhan Jamur
Hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa :
1)   Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama tiga hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal belum terjadi perubahan yaitu harum, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang umur simpan produk. Untuk pertumbuhan jamur sudah ada.
2)   Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama tiga hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon ketan tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal belum terjadi perubahan yaitu harum, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang umur simpan produk. Untuk pertumbuhan jamur sudah ada.
3)   Selai Nanas
Hasil pengamatan pada Selai Nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama tiga hari tekstur dari selai Nanas tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)   Selai Nangka
Hasil pengamatan pada Selai Nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai Nangka tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
5)   Selai Mangga
Hasil pengamatan pada Selai mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai mangga tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)   Selai Apel
Hasil pengamatan pada Selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua hari tekstur dari selai apel tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.



B.     Nilai Tambah Produk Klepon Pisang Isi Buah
Adapun nilai tambah dari produk Kelpon Pisang Isi buah ini adalah mampu meningkatkan harga jual pisang yang selama ini kurang diminati oleh masyarakat misalnya pisang raja bandung, pisang pipit, pisang uter dan pisang yang lainnya. Dalam pembuatan pisang isi buah ini direkomendasikan  menggunakan tepung pisang supaya klepon yang dihasilkan dapat maksimal.



BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Dari hasil praktikum ini dapat diketahui bahwa :
1.      Klepon pisang lebih enak daripada klepon ketan.
2.      Klepon pisang ternyata daya simpannya lebih lama dibandingkan dengan klepon ketan.
3.      Penyimpanan pada suhu dingin lebih efektif karena daya simpannya akan lebih lama dibandingkan disimpan pada suhu ruang.
B.     Saran
1.      Sebagai rekomendasi dalam pembuatan klepon pisang isi buah seharusnya yang digunakan tepung pisang bukan bubur pisang.
2.      Dalam pembuatan klepon pisang diperlukan penmabahan tepung ketan dan tepung tapioka.



DAFTAR PUSTAKA
www.juragantips.com/membuat-jajanan-kue-klepon-sehat-dan-bergizi-berbahan-alami/. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.00 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://pengertian-buah-manfaat.blogspot.co.id/2014/03/buah-apel.html. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.10 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://manfaatbuahdaun.blogspot.co.id/2014/01/kandungan-nutrisi-dan-manfaat-buah-apel.html. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.15 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://lilyutami10.blogspot.co.id/2015/05/pemanfaatan-buah-nenas-anangka-comosus-l.html. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.20 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://permathic.blogspot.co.id/2013/04/gandungan-gizi-dan-manfaat-buah-pisang.html. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.25 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://www.organisasi.org/1970/01/isi-kandungan-gizi-buah-nangka-masak-di-pohon-komposisi-nutrisi-bahan-makanan.html. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.30 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://wulanwf.blogspot.co.id/2015/05/jurnal-selai.html. Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.40 WIB di Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta