LAPORAN PRAKTIKUM
PEMBUATAN KLEPON KETAN DAN KLEPON
PISANG ISI BUAH
Mata
Kuliah : Nilai Tambah
Produk Agribisnis
Dosen
Pengampu :
Ir. B. Budi Setiawati, MP.
![]() |
DISUSUN OLEH :
KELAS IIIA
|
NO
|
NAMA
|
NIREM
|
|
1.
|
Lia
Agustina
|
05.1.4.15.0512
|
|
2.
|
M.
Hasbi Assidiqi
|
05.1.4.15.0513
|
|
3.
|
M.
Syaifudinor
|
05.14.15.
0514
|
|
4.
|
Meida
Niken Sari
|
05.1.4.15.0515
|
|
5.
|
Nor
Faizatulina
|
05..1.4.15.0516
|
|
6.
|
Novitasari
Indriyatuti
|
05.1.4.15.0517
|
|
7.
|
Nur
Fatimah
|
05.1.4.15.0518
|
|
7.
|
Risky
Kurnianto
|
05.1.4.15.0519
|
|
8.
|
Rennyta
Septiana Hapsari
|
05.1.4.15.0520
|
KEMENTRIAN PERTANIAN BADAN
PENYULUHAN DAN
PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN SEKOLAH
TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG JURUSAN
PENYULUHAN PERTANIAN
YOGYAKARTA
2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur senantiasa kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan Rahmat, nikmat, hidayah dan kasih sayang-Nya serta shalawat dan
salam semoga selalu tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW beserta keluarga,
sahabat dan para pengikutnya. Sehingga penyusunan Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah
Produk Agribisnis yang berjudul “PEMBUATAN
KLEPON KETAN DAN KLEPON PISANG ISI BUAH” dapat diselesaikan dengan
maksimal dan tepat pada waktunya.
Dalam
Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis kami menyampaikan
tentang inovasi olahan pangan untuk meningkatkan nilai tambah dari produk hasil
pertanian. Adapun maksud kami mengolah produk hasil pertanian menjadi olahan
tradisional dengan memodif rasa yang modern ini bertujuan untuk mengembangkan
produk-produk tradisional dengan dimodifikasi modern guna untuk meningkatkan
nilai jual dan memberikan daya tarik pada konsumen. Tak lupa saya ucapkan
terimakasih kepada Ibu Ir. B. Budi Setiawati, MP. selaku dosen Nilai Tambah Produk
Agribisnis dan Tim Dosen Pengampu Mata Kuliah Nilai
Tambah Produk Agribisnis serta Teknisi Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian yang
telah membantu dan memberikan ilmunya dan menyediakan peralatan dan bahan baku
serta memberikan pengarahan kegiatan praktikum pada kesempatan ini.
Akhirnya kami menyadari sepenuhnya bahwa
dalam penyusunan Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis
ini masih banyak kekurangan, maka dari itu dengan rendah hati kami mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan Laporan Praktikum
Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis. Selain itu penulis mengharapkan
semoga Laporan Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah Produk Agribisnis ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta,
04 Oktober 2016
Penulis
DAFTAR ISI
SAMPUL........................................................................................................................
KATA PENGANTAR...................................................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................
A. Latar
Belakang...........................................................................................................
B. Tujuan........................................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Klepon
.......................................................................................................................
B. Pisang.........................................................................................................................
C. Selai
...........................................................................................................................
D. Apel............................................................................................................................
E. Nangka.......................................................................................................................
F. Mangga......................................................................................................................
G. Nanas.........................................................................................................................
BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu
dan Tempat.....................................................................................................
B. Alat
dan Bahan..........................................................................................................
C. Prosedur
Kerja...........................................................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan Praktikum Pembuatan Klepon.............................................................
B. Nilai
Tambah Produk Klepon Pisang Isi Buah..........................................................
BAB V PENUTUP........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN...................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Buah pisang merupakan salah satu jenis
komoditi holtikultura dalam kelompok buah-buahan yang memiliki nilai sosial dan
ekonomi cukup tinggi bagi masyarakat Indonesia karena antara lain pisang
sebagai sumber pro vitamin A yang baik, pisang sebagai sumber kalori utama
disamping alpukat dan durian, pisang cukup dikenal oleh masyarakat luas,
budidaya pisang dapat dilakukan dimana saja dan cepat tumbuhnya. Selain itu,
komoditas pisang juga mempunyai peluang besar untuk dimanfaatkan dalam aneka
industri. Pisang mengandung polifenol, oleh karena itu mudah mengalami reaksi
browning apabila kontak dengan udara. Salah satu metode yang dapat digunakan
untuk mencegah pencoklatan adalah dengan melakukan perendaman buah dengan
asam-asam organik seperti asam sitrat dan garam (NaCl), karena asam sitrat
berfungsi sebagai anti oksidan,sedangkan NaCl mampu menghilangkan lender, dan
anti oksidan sehingga menyebabkan tepung berwarna putih.
Pisang kepok (Musa paradisiacal
formatypica) merupakan produk yang cukup perspektif dalam pengembangan sumber
pangan lokal karena pisang dapat tumbuh di sembarang tempat sehingga produksi
buahnya selalu tersedia, namun cepat rusak setelah lepas panen karena melalui
proses klimaterik yaitu proses kematangan, untuk mengatasi untuk mengatasi
kerusakan tersebut maka dapat diolah menjadi berbagai olahan makanan salah
satunya klepon.
Klepon merupakan salah satu jenis produk
pangan dan jajanan tradisional semi basah yang telah dikenal dan beredar di
lingkungan masyarakat, termasuk masyarakat Yogyakarta. Klepon termasuk dalam
golongan jajanan pasar yang relatif murah dan memiliki cita rasa yang khas
sehingga cocok disajikan untuk sarapan, camilan di sore hari maupun untuk makanan
ringan pada acara-acara, misalnya arisan. Klepon memiliki tekstur yang agak
kenyal dengan rasa yang manis. Klepon terbuat dari tepung ketan yang dibentuk
seperti bola-bola kecil berwarna putih, merah muda, atau hijau (sesuai selera),
berisi gula merah, dimasak dengan cara direbus dalam air mendidih dan disajikan
dengan parutan kelapa dan garam halus. Klepon biasanya dijajakan bersama-sama
dengan jajanan tradisional lainnya. Umumnya, klepon yang jual di pasar-pasar
tradisional dan pedagang kaki lima di pinggir jalan adalah klepon yang berwarna
hijau.
Melihat kenyataan yang demikian maka
untuk meningkatkan nilai jual pisang dan menangani hasil panen pisang yang
mudah rusak maka dilakukan pengolahan buah pisang menjadi aneka olahan yang
banyak digemari masyarakat salah satunya adalah klepon pisang isi buah. Klepon
pisang yang belum banyak dijual dipasaran terlebih dengan isi menggunakan selai
buah yang selama ini belum ada diharapkan mampu memberikan daya tarik pada
konsumen.
B. Tujuan
1. Untuk
mengetahui penanganan lebih lanjut pada buah-buahan yang bertujuan meningkatan
nilai jual pada buah tersebut khususnya buah pisang.
2. Untuk
mengetahui proses pembuatan klepon pisang isi buah.
3. Untuk
mengetahui daya simpan selai buah-buahan.
4. Untuk
mengetahui daya simpan klepon pisang isi buah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klepon
Kue Klepon merupakan kue tradisional
yang berbahan dasar dari tepung beras ketan. Dari jajaran makanan daerah
lainnya, dia termasuk jajanan pasar khas nusantara yang memiliki bentuk unik
mirip gunduk atau kelereng dan rasa manis yang lembut. Rasa manis klepon
berasal dari potongan kecil gula jawa yang di sisipkan ke dalam bola-bola
klepon dan dengan sendirinya akan meleleh saat di kukus atau adang. Untuk
pengolahannya, dapat diolah dengan direbus atau bisa juga dengan cara dikukus
lalu digulungkan diatas parutan kelapa muda yang telah disiapkan.
Asal-muasal Kue Klepon ini dikabarkan
berasal dari tanah Jawa yang keberadaannya saat ini sudah dikenal keseluruh
pelosok nusantara maupun diluar negeri juga. Untuk didaerah tanah Melayu
seperti Sumatra dan juga Malaysia, Kue Klepon ini diberikan atau sudah dikenal
dengan nama Onde-onde. Kebiasaan orang Jawa sebelum berangkat kerja dan ke
sawah-ladang selalu mengawali pagi dengan sarapan kue jajanan pasar, termasuk kue Klepon.
Sebab makanan Khas Jawa ini memang cocok untuk di hidangkan atau disajikan
untuk mengisi perut sebelum beraktivitas pagi. Kombinasi sarapan Gethuk dan
juga Cenil atau Cetil juga menjadi pilihan saat sore hari.
Ciri Khas Kue Klepon adalah bentuknya
yang bulat serta memiliki warna Putih ataupun Hijau. Akan tetapi, warna
tersebut tidaklah warna seharusnya karena Anda dapat mengganti warna Putih dan
Hijau tersebut dengan warna kesukaan ataupun warna yang menjadi selera
masing-masing.
B. Pisang
Pisang (Banana) adalah pohon jenis Terna
(pohon dengan batang yang lunak dan tidak berkayu) dari suku Musaceae
dengan batang yang kuat, dan daun-daun yang besar memanjang dan berwarna hijau
tua. Buah pohon ini nampak dalam bentuk sisir-sisir, yang tiap sisirnya berisi
(10 20) pisang, dan dalam buahnya tidak terdapat biji. Pisang merupakan buah dengan sumber gizi
yang hampir sempurna karena pisang mengandung nutrisi enam yaitu: air, gula,
protein, lemak, vitamin, dan mineral.
Pisang mengandung (68%) air, (25%) gula,
(2%) protein, (1%), lemak dan minyak, (1%) serat Selulosa. Sebagaimana juga ia
mengandung pati dan asam tanin, vitamin A (300 IU per seratus gram), vitamin B
dengan berbagai jenisnya; B1, B2, B 6, dan 12 (100 mg per seratus gram),
persentase yang cukup dari vitamin D, dan sedikit Vitamin Z. Dan pisang juga
mengandung Kalsium (100 mg per seratus gram), Fosfor, Besi, Sodium, Kalium
(potassium), Magnesium, dan Seng.
Pisang dianggap sebagai bahan makanan
super lezat yang siap membuat lidah bergoyang. Rasanya yang khas, lembut,
manis, dan creamy, tidak pernah bisa terlupakan. Pisang adalah buah yang
kaya nutrisi. Salah satu nutrisi yang paling lazim dibicarakan adalah potasium
(kalium), yang baik untuk relaksasi,
menurunkan tekanan dan melancarkan aliran (sirkulasi) darah. Manfaat lain buah
pisang antara lain adalah meningkatkan kekebalan tubuh, obat hipertensi (tekanan darah tinggi),
mencegah penyakit jantung, kesehatan janin Ibu hamil, mengatasi anemia (kurang darah), mengatasi
gangguan pencernaan, menurunkan berat badan.
C. Selai
Selai adalah bahan dengan konsistensi
gel atau semi gel yang dibuat dari bubur buah. Selai digunakan sebagai bahan
pengisi dalam pembuatan roti dan kue. Konsistensi gel atau semi gel pada selai
diperoleh dari interaksi senyawa pektin yang berasal dari buah atau pektin yang
ditambahkan dari luar, gula sukrosa dan asam. Interaksi ini terjadi pada suhu
tinggi dan bersifat menetap setelah suhu diturunkan (Hasbulloh, 2001).
Penambahan sukrosa dalam pembuatan
produk makanan seperti selai berfungsi untuk memberikan rasa manis, dan dapat
pula sebagai pengawet, yaitu dalam konsentrasi tinggi menghambat pertumbuhan
mikroorganisme dengan cara rnenurunkan aktivitas air dari bahan pangan
(Margono, 2000).
Selai biasanya di buat dari berbagai
macam jenis buah – buahan yang terdapat banyak dipasaran , misalnya saja
strawberry, blueberry, nanas, pisang. Selai adalah produk makanan yang
kental atau setengah padat yang dasarnya dibuat dari campuran 45 bagian berat
buah. Biasanya selai digunakan sebagai penambah cita rasa dalam menikmati
berbagai macam kue – kuehan maupun saat menikmati roti, selain untuk menambah
rasa selai juga dapat memperindah tampilan kue – kue atau roti itu tersendiri
karena selai memiliki warna alami yang sangat menarik misalnya saja selai nanas
memiliki warna kuning yang sangan menarik perhatian.
Penambahan pektin pada pembuatan selai
dapat dilakukan untuk mengatasi masalah gagalnya pembentukan gel pada pembuatan
selai dari buah-buahan yang kandungan pektinnya rendah. Gel pektin dapat
terbentuk pada berbagai suhu walaupun kecepatan pembentukan gel tergantung pada
berbagai faktor yaitu gula, konsentrasi pektin, jenis pektin, pH dan suhu.
Pembentukan gel dapat menjadi lebih cepat dengan semakin rendahnya suhu serta
meningkatnya konsentrasi gula. (Ropiani, 2006).

Gambar 1. Diagram Pembuatan Selai
D. Apel
Apel adalah jenis buah-buahan, atau buah
yang dihasilkan dari pohon buah apel. Buah apel biasanya berwarna merah
kulitnya jika masak dan (siap dimakan), namun bisa juga kulitnya berwarna hijau
atau kuning. Kulit buahnya agak lembek, daging buahnya keras. Buah ini memiliki
beberapa biji di dalamnya.
Selain senyawa pektin,
dalam satu buah apel ukuran 100 gram juga terkandung banyak zat gizi.
Diantaranya Kalori (58 kalori), Hidrat arang (14,9 gram), Lemak (0,4 gram),
Protein (0,3 gram), Kalsium (6 mg), Fosfor (10 mg), Zat Besi (0,3 mg), Vitamin A (90 SI), Vitamin B1 (0,04 mg), Vitamin C (5 mg) dan Air (84 %).
Buah apel mempunyai
manfaat untuk pengobatan diantaranya, mengobati susah buang air besar,
mengobati diare hingga mengatasi diabetes. Sementara itu, khasiat buah apel
untuk kesehatan antara lain melancarkan sistem pencernaan, menangkal radikal
bebas, mencegah kanker, menyehatkan gigi, hingga mencegah penyakit alzheimer.
E. Nangka
Nangka ( Artocarpus heterophyllus Lamk
) merupakan tanaman buah yang beraasal dari India dan menyebar luas
keberbagai daerah tropis, terutamanya Indonesia. Tanaman ini memiliki nama
berbeda – beda dan bervariasi tergantung wilayah maupun daerahnya. Tanaman
nangka ini merupakan tanaman yang tergolong kedalam jenis buah tahunan, dan
masih berfamili dengan Malvales dan juga termasuk kedalam ordo
Urticales. Tanaman nangka memiliki buah berbentuk bulat memanjang berwarna
hijau dan kekuningan jika sudah mau matang. Buah ini tergolong kedalam buah
yang majemuk, yang memiliki daging didalamnya yang banyak. Buah ini memiliki
permukaan kasar dan berduri lunak, serta buah ini terdapat di batang dan
percabangan.
Buah Nangka mengandung energi sebesar
106 kilokalori, protein 1,2 gram, karbohidrat 27,6 gram, lemak 0,3 gram,
kalsium 20 miligram, fosfor 19 miligram, dan zat besi 1 miligram. Selain
itu di dalam Buah Nangka Masak Di Pohon juga terkandung vitamin A sebanyak 330
IU, vitamin B1 0,07 miligram dan vitamin C 7 miligram. Hasil tersebut
didapat dari melakukan penelitian terhadap 100 gram Buah Nangka Masak Di Pohon,
dengan jumlah yang dapat dimakan sebanyak 28 %.
Manfaat buah angka antara lain adalah
mencegah kanker, mencegah anemia, membantu memperkuat tulang, menjaga kesehatan
mata dan kulit, menjaga kesehatan
tiroid, membantu menurunkan tekanan darah , dapat meningkatkan energi.
F.
Mangga
Buah Mangga
atau biasa disebut mempelam dan dalam bahasa ilmiahnya adalah Mangifera
indica merupakan nama buah
sekaligus nama dari pohonnya. Buah ini termasuk ke dalam marga Mangifera,
yang terdiri dari 35-40 anggota, dan suku Anacardiaceae. Buah ini
diperkirakan berasal dari sekitar perbatasan India dengan Burma
dan telah menyebar ke Asia Tenggara sekurangnya semenjak 1500 tahun
yang silam. Pengambilan nama buah ini berasal
dari Malayalam maanga dan dalam bahasa Indonesia menjadi mangga. Nama
ilmiah buah mangga mengandung arti: “(pohon) yang berbuah mangga, berasal dari
India”.
Pohon mangga termasuk dalam kelompok arboreus, yaitu tumbuhan
berkayu yang mempunyai tinggi batang lebih dari 5 m. Pohonnya dapat mencapai
tinggi 10-40 m.
Buah mangga
memiliki banyak penggemar. Rasa daging buah yang umumnya manis dengan tekstur
lembut serta menyegarkan ketika dimakan, menjadikan buah ini selalu dicari
banyak orang apalagi ketika sedang musimnya. Selain memiliki sifat rasa yang
manis dan menyegarkan, ternyata buah mangga mengandung banyak nutrisi yang
bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Buah ini juga kaya vitamin E dan diyakini mengandung afrodisiak, yakni bahan yang
bisa berfungsi meningkatkan libido atau gairah bercinta.
Tabel dibawah
menunjukkan nilai kandungan setiap unsur gizi dalam buah mangga baik mentah maupun
matang.
|
Kandungan
zat
|
Nilai
rata-rata buah manga
|
|
|
Mentah
|
Matang
|
|
|
Air (%)
|
90.00
|
86.00
|
|
Protein (%)
|
0.70
|
0.60
|
|
Gula total(%)
|
8.80
|
11.80
|
|
Lemak (%)
|
0.10
|
0.10
|
|
Serat
|
-
|
1.10
|
|
Mineral
|
0.40
|
0.30
|
|
Kapur (%)
|
0.03
|
0.01
|
|
Fosfor (%)
|
0.02
|
0.02
|
|
Besi (
mg/gram)
|
4.50
|
0.30
|
|
Vitamin A (mg/100g)
|
150 U.I
|
4800 U.I
|
|
Vitamin B1 (mg/100 g)
|
-
|
0.04
|
|
Vitamin B2 ( mg/100g)
|
0.03
|
0.05
|
|
Vitamin C (mg/100 g)
|
3.00
|
13.00
|
|
Asam nicotinat ( mg/100 g)
|
-
|
0.30
|
|
Nilai Kalori per 100 g
|
39
|
50-60
|
|
Sumber:
Laroussilhe, LE MANGUER, 1960
|
||
G. Nanas
Nanas
merupakan salah satu tanaman buah yang banyak dibudidayakan di daerah tropis
dan subtropis. Tanaman ini mempunyai banyak manfaat terutama pada buahnya. Karena banyak mengandung vitamin C. Bagian buah
nanas yang dapat dimakan mengandung air 85%, protein 0,4%, gula 14%, lemak
0,1%, dan serat 0,5%. Buah nanas mengandung vitamin A, C dan B1. Kandungan
vitamin C dalam nenas adalah 24 mg dalam 100 gram buah nanas segar. Santoso
(1998), menyatakan bahwa buah nanas mengandung nilai gizi yang tinggi.
Tabel 1.
Kandungan gizi buah nanas segar (100 gram bahan)
|
No
|
Kandungan Gizi
|
Satuan Kalori
|
Jumlah
|
|
1.
|
Kalori
|
gr
|
52,00
|
|
2.
|
Protein
|
gr
|
0,40
|
|
3.
|
Lemak
|
gr
|
0,20
|
|
4.
|
Karbohidrat
|
gr
|
16,00
|
|
5.
|
Fosfor
|
mg
|
11,00
|
|
6.
|
Zat
besi
|
mg
|
0,30
|
Sumber : Direktorat Gizi Departemen
Kesehatan RI, 1981
Nenas mudah sekali mengalami perubahan fisiologis,
kimia, dan fisik bila tidak ditangani secara tepat. Akibatnya, mutu akan turun
drastis. Nenas menjadi tidak segar lagi dalam waktu yang sangat singkat sehingga
tidak termnfaatkan. Pengolahan nenas juga dapat mengamankan hasil panen yang
berlimpah. Dengan mengolahnya menjadi selai maka daya simpan menjadi lebih lama
dan jangkauan pemasarannya lebih luas. Hal ini memungkinkan pada saat bukan
musimnya kita masih dapat menikmati cita rasa buah nenas sesuai dengan cita
rasa buah segarnya.
Selai dibuat dengan cara memasak hancuran gula,
dicampur dengan gula dengan atau tanpa ditambah air. Selai biasanya digunakan
sebagai bahan olesan roti atau sebagai tambahan untuk pembuatan kue. Selai
mudah dibuat karena bahan-bahannya mudah diperoleh. Dalam membuat selai, dilakukan
dengan memanfaatkan buah yang matang, serta dapat dicampurkan dengan yang
kurang matang. Pencampuran itu dapat menghasilkan selai yang lebih baik.
BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM
A. Waktu
Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah
dilaksanakan pada hari Selasa, 04 Oktober 2016 pada pukul 13.00-17.10 WIB. Pengamatan
hasil praktikum dilakukan Mulai Selasa, 04 Oktober 2016 – 17 Oktober 2016.
B. Tempat
Praktikum Mata Kuliah Nilai Tambah
dilaksanakan bertempat di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian (PHP) Sekolah
Tinggi Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta.
C. Alat dan Bahan
|
ALAT
|
BAHAN
|
|
1.
Pisau
2.
Panci
3.
Baskom
4.
Alat Pemarut
5.
Pengaduk
6.
Sendok
7.
Telenan
8.
Saringan
9.
Spatula
10. Nampan
11. Kompor
12. Wajan
13. Peniris
|
1. Pisang
Kapok Kuning 1 sisir
2. Tepung
Ketan (Rosse Brand) 1 kg
3. Buah
Nanas 1 buah
4. Buah
Nangka ¼ kg
5. Buah
Naga ½ kg
6. Kelapa
1 butir
7. Gula
Pasir 1 kg
8. Pasta
Coklat 1 botol
9. Greentea
1 botol
10. Gula
Jawa ½ kg
11. Buah
Mangga ½ kg
12. Buah Apel ½ kg
13. Garam
secukupnya
14. Daun
Pandan/Daun Suji
|
D. Prosedur Kerja
1. Pembuatan
Isi Klepon
a. Siapkan
alat dan bahan.
b. Kupas
kulit buah nanas, nangka, naga, pisang, mangga dan apel.
c. Cuci
bersih buah yang telah dikupas.
d. Parut
untuk buah nanas dan apel, sedangkan untuk buah mangga dan nangka dipotong
kecil-kecil.
e. Hasil
parutan dan potongan masing-masing ditambahkan gula pasir dan disangrai.
f. Tunggu
beberapa menit sampai buah sedikit layu agar dihasilkan tekstur dan rasa buah
yang alami.
g. Dinginkan
dan kemudian dibentuk bulatan-bulatan kecil.
2. Pembuatan
Kulit Klepon
a. Siapkan
alat dan bahan.
b. Parut
kelapa untuk membuat santan dan sisihkan hasil parutan kelapa untuk ditaburkan
pada klepon yang telah jadi,.
c. Blender
sebagian pisang dan buah naga.
d. Campurkan tepung ketan, garam, santan dan ekstrak buah
naga.
e. Buatlah
adonan sampai merata dan adonan benar-benar kalis.
f. Setelah
adonan kalis, adonan siap dibentuk bulatan-bulatan kecil dan kemudian
dimasukkan isi yang telah disiapkan.
g. Bulatan-bulatan
kecil yang telah terisi kemudian dimasukkan kedalam air yang telah mendidih.
h. Tunggu
beberapa menit sampai bulatan-bulatan tersebut mengampung diatas permukaan.
i. Angkat
bulatan-bulatan tersebut menggunakan peniris dan tiriskan.
j. Bulatan-bulatan
yang telah didinginkan kemudian dibalurkan dengan parutan kelapa.
k. Klepon
pisang isi buah siap disajikan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan Praktikum Pembuatan Klepon
1. Pengamatan
Hari Selasa, 4 Oktober 2016 (sebelum ada perlakuan penyimpanan)
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon Pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nanas
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Kenyal
|
Kenyal
|
Agak
keras
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
2.
|
Rasa
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
|
3.
|
Warna
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Klepon pisang
memiliki tekstur yang lebih kenyal, rasa enak, warna hijau menggunakan ektrak
daun pandan dan warna ungu dari ekstrak buah naga, aroma normal yaitu segar dan
pertumbuhan jamur belum ada karena masih dalam bentuk segar.
2)
Klepon Ketan
Klepon pisang
memiliki tekstur yang kenyal, rasa enak, warna hijau menggunakan ektrak daun
pandan dan warna ungu dari ekstrak buah naga, aroma normal yaitu segar dan
pertumbuhan jamur belum ada karena masih dalam bentuk segar.
3)
Selai Nanas
Tekstur selai
yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah nanas
itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga selai
nanas yang dihasilkan
mempunyai tekstur yang
agak keras. Penyebab tekstur selai nanas keras diakibatkan juga oleh
lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan
hasil selain menjadi keras dan
membentuk kristal gula.
Sedangkan bila terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan
akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan
asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan
dengan kadar pektin
atau keasaman yang
rendah perlu ditambahkan pektin
atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai
nanas yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma
khas buah tersebut/ buah nanas. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa
karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses
pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai
nanas adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula
pasir dan lama pemasakan. Rasa dari selai
nanas itu sendiri adalah enak, manis dan agak asam.
4)
Selai Nangka
Tekstur selai
yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah nangka
itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga selai
nangka yang dihasilkan
mempunyai tekstur yang
agak keras. Penyebab tekstur selai nanas keras diakibatkan juga oleh
lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan
hasil selain menjadi keras dan
membentuk kristal gula.
Sedangkan bila terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan
akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan
asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan
dengan kadar pektin
atau keasaman yang
rendah perlu ditambahkan pektin
atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai nangka
yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas
buah tersebut/ buah nangka. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa
karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses
pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai nangka
adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan
lama pemasakan. Rasa dari selai nangka
itu sendiri adalah enak, dan manis.
5)
Selai Mangga
Tekstur selai
yang kami hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah mangga
itu rendah sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga selai
nangka yang dihasilkan
mempunyai tekstur yang
agak keras. Penyebab tekstur selai mangga keras diakibatkan juga oleh
lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan
hasil selain menjadi keras dan
membentuk kristal gula.
Sedangkan bila terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan
akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan
asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan
dengan kadar pektin
atau keasaman yang
rendah perlu ditambahkan pektin
atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai nangka
yang dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas
buah tersebut/ buah mangga. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa
karena buah yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses
pemanasan dan kurang beraroma.
Warna selai nangka
adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan
lama pemasakan. Rasa dari selai nangka
itu sendiri adalah enak, manis dan agak asam.
6)
Selai Apel
Tekstur selai yang kami
hasilkan disebabkan karena kandungan pektin yang ada dalam buah apel itu rendah
sedangkan penambahan gulanya tinggi, sehingga selai
apel yang dihasilkan
mempunyai tekstur yang
agak keras. Penyebab tekstur selai apel agak keras diakibatkan juga oleh
lamanya pemasakan. Pemanasan atau pemasakan yang terlalu lama akan menyebabkan
hasil selain menjadi keras dan
membentuk kristal gula.
Sedangkan bila terlalu cepat/singkat, selai yang dihasilkan
akan encer, yang dikandung buah-buahan atau sari buah bereaksi dengan gula dan
asam membuat selai menjadi kental. Buah-buahan
dengan kadar pektin
atau keasaman yang
rendah perlu ditambahkan pektin
atau asam agar selai bisa menjadi kental.
Aroma selai apel yang
dihasilkan sesuai dengan standar mutu dari selai buah yaitu beraroma khas buah
tersebut/ buah apel. Kematangan buah juga berpengaruh terhadap rasa karena buah
yang lebih matang akan kehilangan struktur pada saatproses pemanasan dan kurang
beraroma.
Warna selai nangka
adalah kuning kecokltan hal ini dipengaruhi terhadap penambahan gula pasir dan
lama pemasakan. Rasa dari selai apel itu
sendiri adalah enak, dan manis.
2. Pengamatan
Hari Rabu, 05 Oktober 2016 pada pukul 10.30 (Hari Pertama Pengamatan)
a. Suhu
Kulkas
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon Pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nanas
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Membeku,
keras, bagus
|
Membeku,
keras, bagus
|
Membeku,
keras, bagus
|
Membeku,
keras, bagus
|
Membeku,
keras, bagus
|
Membeku,
keras, bagus
|
|
2.
|
Rasa
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
Enak
|
|
3.
|
Warna
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Hasil pengamatan
pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih
enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum
ada.
2)
Klepon Ketan
Hasil pengamatan
pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih
enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum
ada.
3)
Selai Nangka
Hasil pengamatan
pada Selai Nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama sehari tekstur dari Selai Nangka tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih
enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum
ada.
4)
Selai Nanas
Hasil pengamatan
pada Selai Nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama sehari tekstur dari Selai Nanas tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih
enak serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum
ada.
5)
Selai Mangga
Hasil pengamatan pada Selai
Mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama sehari
tekstur dari Selai Mangga tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi
teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak serta
untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)
Selai Apel
Hasil pengamatan
pada selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama sehari tekstur dari selai tersebut adalah keras karena membeku akan
tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih enak
serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
b. Suhu
Ruang
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nanas
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Agak
Lembek
|
Lembek
|
Agak
Keras
|
Agak
Keras
|
Agak
Keras
|
Agak
Keras
|
|
2.
|
Rasa
|
Enak
lebih normal
|
Enak,
Agak berlendir
|
Enak,
Agak berlendir
|
Enak,
Agak berlendir
|
Enak,
Agak berlendir
|
Enak,
Agak berlendir
|
|
3.
|
Warna
|
Sama
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
Normal
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Segar/Normal
|
Bau
Busuk menyengat
|
Bau
Busuk menyengat
|
Bau
Busuk menyengat
|
Bau
Busuk menyengat
|
Bau
Busuk menyengat
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Hasil pengamatan
pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah agak lembek karena disimpan
pada suhu ruang sehingga ada pertukaran sirkulasi udara, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal yaitu
segar. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)
Klepon Ketan
Hasil pengamatan
pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari klepon ketan tersebut adalah menjadi lembek karena terjadi
sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah, rasa setelah
disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir serta
untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur
belum ada.
3)
Selai Nanas
Hasil pengamatan
pada selai nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari selai nanas
tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang
dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak
menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada
beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau
busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)
Selai Nangka
Hasil pengamatan
pada selai nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari selai nangka
tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang
dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak
menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada
beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau
busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
5)
Selai Mangga
Hasil pengamatan
pada selai mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari selai mangga
tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang
dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak
menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada
beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau
busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)
Selai Apel
Hasil pengamatan
pada selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama
sehari tekstur dari selai apel tersebut adalah menjadi agak keras karena
terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi
semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak
lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai
berlendir karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan
aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3. Pengamatan
Hari Kamis, 06 Oktober 2016 Pukul 10.30 (Hari Kedua Pengamatan)
a. Suhu
Kulkas
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nanas
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Beku
|
Beku
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
|
2.
|
Rasa
|
Baik
|
Masam
|
Tidak
terlalu manis /asam
|
Baik
Manis
|
Baik
|
Baik
|
|
3.
|
Warna
|
Belum
Berubah
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Baik
|
Browning
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Harum
Pandan
|
Masam
|
Tidak
terlalu manis
|
Harum
|
Baik
|
Baik
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Hasil pengamatan
pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama dua hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon pisang tersebut adalah
keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam
suhu dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal belum terjadi
perubahan yaitu harum, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi
penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan
sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang
umur simpan produk. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)
Klepon Ketan
Hasil pengamatan
pada klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama dua hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon ketantersebut adalah
keras karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam
suhu dingin masam serta untuk warna masih baik dan aroma terjadi perubhan
menjadi masam, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi penghambatan
mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan sehingga dengan
adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang umur simpan produk
akan tetapi bahan baku yang digunakan akan menentukan umur penyimpanan. Untuk pertumbuhan
jamur belum ada.
3)
Selai Nanas
Hasil pengamatan
pada Selai Nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama dua hari tekstur dari selai Nanas tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak
terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih
normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)
Selai Nangka
Hasil pengamatan
pada Selai Nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama dua hari tekstur dari selai Nangka tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin berubah
menjadi kurang manis serta untuk warna dan
aroma masih normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
5)
Selai Mangga
Hasil pengamatan
pada Selai Mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama dua hari tekstur dari selai mangga tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak
terlalu manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih
normal. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)
Selai Apel
Hasil pengamatan
pada Selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin
selama dua hari tekstur dari selai apel tersebut adalah keras karena membeku
akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin masih
normal serta untuk warna mengalami browning karena ada sirkulasi udara yang
dapat mempengeruhi perubahan warna dan aroma masih normal. Untuk pertumbuhan
jamur belum ada.
b. Suhu
Ruangan
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nangka
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Lembek
|
Sedikit
Lembek
|
Keras
|
Keras
|
Keras
|
Sedikit
Lembek
|
|
s
|
Rasa
|
Masam
|
Masam
|
Sedikit
manis
|
Tidak
terlalu manis
|
Sedikit
masam
|
Sedikit
manis
|
|
3.
|
Warna
|
Pucat
|
Sedikit
Pucat
|
Baik
|
Baik/browning
|
Baik
|
Browning
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Kerut
|
Masam
|
Kuat
|
Masam
|
Masam
|
Kecut
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
-
|
-
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Tidak
ada
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Hasil pengamatan
pada klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari klepon pisang tersebut adalah agak lembek karena
disimpan pada suhu ruang sehingga ada pertukaran sirkulasi udara, rasa setelah
disimpan dalam suhu ruang sudah masam mendekati basi serta untuk warna sudah
memudar dan mulai pucat dan aroma sudah mulai kecut karena sudah mulai basi.
Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
2)
Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada
klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama
sehari tekstur dari klepon ketan tersebut adalah agak lembek karena disimpan
pada suhu ruang sehingga ada pertukaran sirkulasi udara, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak serta untuk warna pucat dan aroma sudah kecut agak
masam sehingga produk mudah basi . Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
3)
Selai Nanas
Hasil pengamatan pada
selai nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama
sehari tekstur dari selai nanas tersebut
adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang dapat merubah tekstur
pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak menggunakan gula pasir
dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih
enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau busuk menyengat. Untuk
pertumbuhan jamur belum ada.
4)
Selai Nangka
Hasil pengamatan pada
selai nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama
sehari tekstur dari selai nangka
tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang
dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak
menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada
beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna masih normal namun sudah
mulai terjadi browning dan aroma sudah berbau masam. Untuk pertumbuhan jamur
belum ada.
5)
Selai Mangga
Hasil pengamatan
pada selai mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang
selama sehari tekstur dari selai mangga
tersebut adalah menjadi agak keras karena terjadi sirkulasi udara yang
dapat merubah tekstur pada makanan basah menjadi semakin keras apabila dimasak
menggunakan gula pasir dan proses memasaknya agak lama, rasa setelah disimpan
dalam suhu ruang masih enak akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada
beberapa faktor yang mempengaruhinya serta untuk warna dan aroma sudah berbau
busuk menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)
Selai Apel
Hasil pengamatan pada
selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama
sehari tekstur dari selai apel tersebut
adalah menjadi agak lembek, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang masih enak
akan tetapi sudah mulai berlendir karena ada beberapa faktor yang
mempengaruhinya serta untuk warna terjadi browning dan aroma sudah berbau busuk
menyengat. Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4. Pengamtan
Hari Senin, 11 Oktober 2016 (Hari Ketiga Pengamatan)
a. Suhu Ruang
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nanas
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Berlendir,
Lembek
|
Berlendir,
Lembek
|
Mengkristal
karena gula
|
Berlendir,
Lembek
|
Mengkristal
karena gula
|
Berlendir,
Lembek
|
|
2.
|
Rasa
|
Basi
|
Basi
|
Basi
|
Basi
|
Basi
|
Basi
|
|
3.
|
Warna
|
Masih
bagus
|
Masih
bagus
|
Masih
bagus
|
Masih
bagus
|
Masih
bagus
|
Masih
bagus
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Asam
|
Asam
|
Asam
|
Busuk
|
Asam
|
Busuk
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
Ada
Pertumbuhan Jamur
|
Ada
Pertumbuhan Jamur
|
Ada
Pertumbuhan Jamur
|
Ada
Pertumbuhan Jamur
|
Ada
Pertumbuhan Jamur
|
Ada
Pertumbuhan Jamur
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada
klepon pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama tiga
hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon pisang tersebut adalah lembek dan
berlendir hal ini karena adanya mikroorganisme yang mempercepat pembusukkan, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang selama
tiga hari sudah tidak enak dikonsumsi karena sudah basi serta untuk warna masih
normal dengan sedikit perubahan serta aroma yaitu kecut karena sudah basi, hal
ini dikarenakan pada suhu ruang sangat sensitif sehingga rangsangan pertumbuhan
mikroorganisme lebih cepat. Sudah terjadi pertumbuhan jamur.
2)
Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada
klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu ruang selama
tiga hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon ketan tersebut adalah lembek
dan berlendir hal ini karena adanya mikroorganisme yang mempercepat pembusukkan, rasa setelah disimpan dalam suhu ruang selama
tiga hari sudah tidak enak dikonsumsi karena sudah basi serta untuk warna masih
normal dengan sedikit perubahan serta aroma yaitu kecut karena sudah basi, hal ini
dikarenakan pada suhu ruang sangat sensitif sehingga rangsangan pertumbuhan
mikroorganisme lebih cepat. Sudah terjadi pertumbuhan jamur.
3)
Selai Nanas
Hasil pengamatan pada
suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai nanas mengkristal
karena adanya gula sehingga selai ini dapat mengumpal, rasa selai nanas sudah tidak enak karena
sudah basi, warna dari selai selai nanas masih bagus belum terjadi
perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada
pertumbuhan jamur pada selai.
4)
Selai Nangka
Hasil pengamatan pada
suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai nangka mengkristal
karena adanya gula sehingga selai ini dapat mengumpal, rasa selai nangka sudah tidak enak karena
sudah basi, warna dari selai selai nangka masih bagus belum terjadi
perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada
pertumbuhan jamur pada selai.
5)
Selai Mangga
Hasil pengamatan pada
suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai mangga mengkristal
karena adanya gula sehingga selai ini dapat mengumpal, rasa selai mangga sudah tidak enak karena
sudah basi, warna dari selai selai mangga masih bagus belum terjadi
perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada
pertumbuhan jamur pada selai.
6)
Selai Apel
Hasil pengamatan pada
suhu ruang dihari ketiga dapat diketahui bahwa tekstur selai apel lembek dan
berair, rasa selai apel sudah tidak enak
karena sudah basi, warna dari selai selai apel masih bagus belum terjadi
perubahan-perubahan, aroma sudah masam karena sudah basi, dan sudah ada
pertumbuhan jamur pada selai.
b. Suhu
Kulkas
|
No
|
Pengamatan
|
Klepon pisang
|
Klepon Ketan
|
Selai Nangka
|
Selai Nangka
|
Selai Mangga
|
Selai Apel
|
|
1.
|
Tekstur
|
Keras
|
Keras
|
Mengkristal
|
Mengkristal
|
Mengkristal
|
Mengkristal
|
|
2.
|
Rasa
|
Masih
Bagus
|
Masih
Bagus
|
Manis
|
Kurang
Manis
|
Masih
Asam
|
Kurang
Manis
|
|
3.
|
Warna
|
Masih
Bagus
|
Masih
Bagus
|
Masih
Bagus
|
Masih
Bagus
|
Masih
Bagus
|
Masih
Bagus
|
|
4.
|
Bau/Aroma
|
Harum
|
Harum
|
Kurang
Harum
|
Kurang
Harum
|
Kurang
Harum
|
Kurang
Harum
|
|
5.
|
Pertumbuhan
jamur
|
Mulai
Ada Pertumbuhan Jamur
|
Mulai
Ada Pertumbuhan Jamur
|
Belum
ada Pertumbuhan Jamur
|
Belum
ada Pertumbuhan Jamur
|
Belum
ada Pertumbuhan Jamur
|
Belum
ada Pertumbuhan Jamur
|
Hasil pengamatan tersebut dapat
diketahui bahwa :
1)
Klepon Pisang
Hasil pengamatan pada klepon
pisang setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama tiga
hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon pisang tersebut adalah keras
karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu
dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal belum terjadi
perubahan yaitu harum, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi
penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan
sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang
umur simpan produk. Untuk pertumbuhan jamur sudah ada.
2)
Klepon Ketan
Hasil pengamatan pada
klepon ketan setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama
tiga hari maka dapat diketahui tekstur dari klepon ketan tersebut adalah keras
karena membeku akan tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu
dingin masih enak serta untuk warna dan aroma masih normal belum terjadi
perubahan yaitu harum, hal ini dikarenakan pada suhu dingin akan terjadi
penghambatan mikroorganisme yang berperan dalam mempercepat pembusukkan
sehingga dengan adanya penyimpanan pada suhu dingin akan akan memperpanjang
umur simpan produk. Untuk pertumbuhan jamur sudah ada.
3)
Selai Nanas
Hasil pengamatan pada
Selai Nanas setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama
tiga hari tekstur dari selai Nanas tersebut adalah keras karena membeku akan
tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu
manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal.
Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
4)
Selai Nangka
Hasil pengamatan pada
Selai Nangka setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua
hari tekstur dari selai Nangka tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi
teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis
akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk
pertumbuhan jamur belum ada.
5)
Selai Mangga
Hasil pengamatan pada
Selai mangga setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama
dua hari tekstur dari selai mangga tersebut adalah keras karena membeku akan
tetapi teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu
manis akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal.
Untuk pertumbuhan jamur belum ada.
6)
Selai Apel
Hasil pengamatan pada
Selai apel setelah diberi perlakuan yaitu disimpan dalam suhu dingin selama dua
hari tekstur dari selai apel tersebut adalah keras karena membeku akan tetapi
teksturnya bagus, rasa setelah disimpan dalam suhu dingin tidak terlalu manis
akan tetapi mendekati asam serta untuk warna dan aroma masih normal. Untuk
pertumbuhan jamur belum ada.
B.
Nilai Tambah Produk Klepon Pisang Isi Buah
Adapun nilai tambah
dari produk Kelpon Pisang Isi buah ini adalah mampu meningkatkan harga jual
pisang yang selama ini kurang diminati oleh masyarakat misalnya pisang raja
bandung, pisang pipit, pisang uter dan pisang yang lainnya. Dalam pembuatan
pisang isi buah ini direkomendasikan
menggunakan tepung pisang supaya klepon yang dihasilkan dapat maksimal.
BAB V
PENUTUP
A.
Simpulan
Dari
hasil praktikum ini dapat diketahui bahwa :
1. Klepon
pisang lebih enak daripada klepon ketan.
2. Klepon
pisang ternyata daya simpannya lebih lama dibandingkan dengan klepon ketan.
3. Penyimpanan
pada suhu dingin lebih efektif karena daya simpannya akan lebih lama
dibandingkan disimpan pada suhu ruang.
B.
Saran
1. Sebagai
rekomendasi dalam pembuatan klepon pisang isi buah seharusnya yang digunakan
tepung pisang bukan bubur pisang.
2. Dalam
pembuatan klepon pisang diperlukan penmabahan tepung ketan dan tepung tapioka.
DAFTAR PUSTAKA
www.juragantips.com/membuat-jajanan-kue-klepon-sehat-dan-bergizi-berbahan-alami/.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.00 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://pengertian-buah-manfaat.blogspot.co.id/2014/03/buah-apel.html.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.10 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://manfaatbuahdaun.blogspot.co.id/2014/01/kandungan-nutrisi-dan-manfaat-buah-apel.html.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.15 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://lilyutami10.blogspot.co.id/2015/05/pemanfaatan-buah-nenas-anangka-comosus-l.html.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.20 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://permathic.blogspot.co.id/2013/04/gandungan-gizi-dan-manfaat-buah-pisang.html.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.25 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://www.organisasi.org/1970/01/isi-kandungan-gizi-buah-nangka-masak-di-pohon-komposisi-nutrisi-bahan-makanan.html.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.30 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta
http://wulanwf.blogspot.co.id/2015/05/jurnal-selai.html.
Diakses pada hari Kamis, 20 Oktober 2016 pukul 19.40 WIB di Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian Jurluhtan Yogyakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar